Sabtu, 31 Oktober 2009

Dua Minggu dalam Kedipan Mata

Tepat di hari ini setahun yang lalu, aku ditinggalkan oleh seseorang yang sangat aku sayangi, seseorang yang dalam impianku could be my future partner in life. Tapi Tuhan berkehendak lain, Tuhan lebih menyayanginya hingga memanggilnya lebih awal dan menjadikannya orang pilihan di pelukan Tuhan. Seseorang yang hingga detik ini masih aku sayangi, dan masih memegang kenangan yang tertinggal. Dua minggu dalam kedipan mata ada perjalanan terakhirku bersama dia sebelum dia pergi untuk selama-lamanya. Dua minggu yang sangat berharga dalam hidupku. Dua minggu yang akan selalu aku simpan selamanya ....

Let's the story begun...

1
Ical Sakit

21 Oktober 2008

“Mbak, tuh abang sakit,” sebuah kalimat yang membuatku kaget saat aku baru saja sampai di kantor. Sebuah kalimat dari Dian, anchor (pembawa berita) RCTI kita, yang ternyata baru saja mengantarkan abang ke rumah sakit pagi tadi.
Aku langsung menengok ke ruangan sebelah, tempat biasa abang istirahat kalau sudah terlalu capek kerja semalaman. Dan aku tertegun melihatnya tergeletak di lantai. ‘Miskin sekali kantor ini, ga punya kasur buat pegawainya untuk istirahat. Ga liat apa, kerjaan di sini udah pake sistem kerja rodi!’

“Mbak, abang suruh sarapan dulu, obatnya harus diminum, dia muntah hebat tadi. Takutnya tifus,” Dian sekali lagi memberi tahuku dengan wajah khawatir.
Aku makin tertegun. Mudah-mudahan bukan tifus, paling juga masuk angin, karena melihat kerjanya abang yang luar biasa hebatnya sampai tidak ada waktu buat istirahat.
Aku hanya mengangguk dan tanpa pikir panjang, aku langsung minta tolong seorang office boy membelikan nasi kuning untuk abang sarapan pagi.

Menunggu sarapan datang, aku buatkan abang teh manis, meski aku tahu belum pernah aku melihat abang minum teh. Yang diminumnya cuma 1; kopi. Kopinya pun kopi cappucino.

Aku menunggu dengan tidak tenang, apalagi melihat abang yang kelihatan lemas sekali.

Sampai akhirnya sarapan datang, dan aku langsung menyiapkannya di atas mejanya.
“Bang, sarapan dulu, buat ganjel obat,” panggilku, tidak tega tergeletak melihat abang di lantai.
Tapi tidak ada sahutan.
“Abang, harus sarapan dulu,” aku belum putus asa.
Masih belum ada jawaban.
Aku tahu, abang orangnya tidak bisa dipaksa. Hingga akhirnya aku menyerah. Mungkin abang mau makan kalau tidak ada yang melihat.
Aku pun keluar, karena memang banyak pekerjaan yang harus aku lakukan hari ini.

Tapi sesibuknya aku, masih sempat aku menengok abang untuk melihat apakah abang sudah sarapan atau belum. Dan memang, sarapannya belum disentuh sama sekali.
Aku coba lagi membujuk abang untuk sarapan, dengan senjata harus ada ganjel buat minum obat. Tapi masih, abang tetap bergeming. Aku yang takut kena semprotnya karena tidak suka dipaksa, lebih banyak mengalah.

“Mbak, orang sakit itu harus dipaksa makan. Mana ada orang sakit yang enak makan. Makanya harus dipaksa, mbak, buat ganjel obat,” Dian sekali lagi jadi pendukungku buat terus membujuk abang supaya mau sarapan, karena memang tidak ada yang peduli abang sudah makan atau belum. Mereka semua seperti disibukkan dengan pekerjaan mereka, hingga lupa editor andalan mereka sedang tergeletak sakit di lantai tanpa kasur dan selimut.
‘Ya Allah, kejamnya kantor ini.’


Akupun kembali membujuknya untuk mau sarapan. Antara takut abang bakalan marah dipaksa terus, aku pantang menyerah. Sampai akhirnya, setelah menunggu hampir dua jam, di saat tidak ada orang yang melihat, aku mendapati abang sedang duduk membelakangiku, mencoba menghabiskan sarapannya pelan-pelan. Aku tersenyum lega dari balik jendela tanpa berani menganggu. Paling tidak, abang sudah mau makan, dan tidak akan ada masalah buat minum obatnya, sekalian pengganti yang keluar banyak tadi pagi.

Aku kembali menengok abang, dan melihat abang sudah istirahat lagi. Abang menghabiskan setengah sarapannya. Tidak apa-apa, itu sudah cukup. Aku melihat obatnya pun sudah dia minum. Aku semakin lega, dan bisa kembali bekerja dengan tenang. Abang bakal baik-baik saja. Ini cuma masuk angin biasa. Aku bisa bekerja dengan harapan abang pasti cepat sembuh.
Saat makan siang, aku lihat abang masih tidur meringkuk di lantai tanpa selimut. Aku langsung memesan makan siang buat abang, sekalian buat makan siangku juga.
Untunglah yang ini tidak butuh perjuangan keras untuk memaksa abang makan siang. Hanya ditinggal sebentar dari upayaku membujuk abang makan, abang melahap makan siangnya. Dan hebatnya yang ini dia habiskan! Yang tersisa tinggal bungkus sambal yang masih utuh dan lauk sedikit. Ayam dan nasinya bersih masuk ke perutnya. Aku semakin girang, abang ada indikasi membaik karena nafsu makannya meningkat. Sip, abang pasti sembuh besok. Dan yang lebih girang lagi, abang bisa shalat berdiri, yang artinya kondisi fisiknya membaik. Bahkan sempat dia mengecek kerjaan Juwi-juniornya. Sehabis shalat, abang istirahat lagi, masih di tempat yang sama dan masih tanpa selimut.

Sore harinya sepulangku dari luar untuk ketemu klien, abang terlihat sedang shalat Ashar, dan langsung naik ke lantai atas, duduk di ruang Master Control. Untung ada Wahyu. Seperti yang kita tahu, di sini teman terdekatnya abang cuma Wahyu. Cuma dengan Wahyu dia bisa mengeluarkan apa yang ada di hati n kepalanya. Meski yang kutahu, mereka berdua sudah tidak punya waktu lagi buat ngobrol-ngobrol santai. Semua sudah dipusingkan dengan pekerjaannya masing-masing. Maklum semua posisi single fighter! Sesekali Wahyu mengajaknya bercanda, dan abang meresponnya dengan senyuman ringan tanpa sepatah katapun keluar. Tapi tidak ada yang perhatian kalau itu sudah merupakan sebuah tanda, ada yang tidak beres dengan abang.

Melihat abang yang terlihat normal dan jauh lebih baik dari tadi pagi, aku bisa pulang ke rumah dengan tenang, meski sebenarnya hati ini belum sepenuhnya tenang. Aku takut abang begadang lagi, dan menurunkan proses recovery-nya. Sempat aku mengirim sms ke abang yang bunyinya ;
‘Gimana, bang, sudah agak mendingan? Jangan begadang lagi, ya....’
Tapi tidak ada balasan, aku hanya bisa berdoa, moga-moga abang cepat membaik

Keesokan harinya, aku seperti menghadapi segudang pekerjaan yang harus aku selesaikan hari itu dan dalam waktu yang bersamaan. Meski aku sempat menengok abang yang masih tertidur di ruang yang sama, lantai yang sama, posisi yang sama, dan kondisi yang sama, aku seperti tenggelam dalam pekerjaanku dan tidak sempat lagi memeriksa abang. Toh yang aku tahu tadi malam keadaannya sudah jauh lebih baik dari kemarin, jadi kukira dia hanya istirahat biasa saja.

Hingga alarm berbunyi setelah sampai jam 2 siang, abang belum juga bangun dari tidurnya. Meski sempat menyentuh sarapannya, hingga siang hari dia belum beranjak lagi dari tidurnya. Setiap disuruh makan, abang seperti tidak mempedulikannya. Entah enggan, entah tidak ada tenaga untuk bangun. Abang hanya sesaat terbangun dengan panggilan, tapi kemudian kembali memejamkan mata.
Alarm kembali berbunyi, saat abang melewatkan shalat dhuhur. Dan Nasi Tim yang kita belikan untuk makan siangnya, sama sekali belum disentuhnya. Setiap dibujuk, reaksinya selalu sama saja, memalingkan wajahnya.

“Terserah abang mau marah sama aku nanti, tapi abang harus makan,” paksaku hampir putus asa abang tidak mau makan juga.
Awalnya aku pikir karena aku yang menawarinya, tapi ternyata tidak hanya aku saja dia tidak menanggapi ajakan makan siang, tapi dengan semuanya yang menawarinya.

Alarm semakin berbunyi keras, saat aku menyadari abang melewatkan shalat Ashar, dan hingga Maghrib, abang sama sekali belum bangun dari tidurnya. Wah, ini serius. Abang tidak mungkin melewatkan shalat seharian kalau bukan karena sakit. Abang pasti tidak kuat bangun. Dan betapa kagetnya aku, wajah abang sudah pucat pasi, dan tubuhnya yang panas. ‘Abang Sakit lagi!’

Melihat abang yang tergeletak tak berdaya di lantai dengan kasur seadanya, juga keadaan abang yang semakin memprihatinkan, akhirnya kita putuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Dan kebetulannya, karena tinggal aku yang sudah tidak ada lagi kerjaan sore itu, aku diserahkan tanggung jawab untuk membawa abang ke rumah sakit. Antara bingung dan takut, dan khawatir dengan kondisi abang, aku menyanggupi tanggung jawab itu. Saat itu keadaan abang sudah lemah, hingga sulit berjalan dan harus dipapah oleh dua orang. Dengan bismillahirohmanirrohim dan tiga bala bantuan; Hendrik, Tan Tan, dan Rohmat, aku membawa abang ke rumah sakit.


2
Malam Yang Panjang

Selepas maghrib aku bawa abang ke rumah sakit terdekat, dan langsung masuk UGD. Abang ditangani oleh seorang dokter jaga. Tapi apa yang bisa dia perbuat untuk memeriksa keadaan abang kalau abang tidak bisa menjawab apa yang dirasakannya. Akupun tidak bisa menjelaskan apa yang abang rasakan. Aku hanya bisa menceritakan kronologis dari abang pertama kali terlihat sakit, hingga sekarang.

“Kemarin sudah sempat ke sini, dan diberi obat ini,” aku menunjukkan obat yang diberikan dokter untuk abang saat ke sini kemarin. “Tapi tidak ada perubahan sejak pagi tadi, sampai sore ini. Badannya lemas nggak bisa bangun, dan tidak kuat bicara.”
Dokter oriental itu mengangguk dan memeriksa obatnya.
Dokter mencoba bertanya lagi pada abang, apa yang dirasa, dan mana yang sakit?
Tapi mau dibagaimanapun juga, abang tidak menjawab apa yang dirasakannya. Abang hanya mengeluhkan kepalanya pusing. Terkadang dia memegang kepalanya dan memijit-mijit sendiri. Dari sana kita tahu, sakit kepala abang tidak bisa ditahan lagi.
Akupun memijit kepalanya, dan pindah memijit kakinya yang dingin, karena aku lihat kakinya terus bergerak dan terlihat gusar. Abang hanya bisa memejamkan mata dan diam tanpa ada tenaga buat mengeluarkan suara. Dengan tidak ada keluhan dari abang, dokterpun hanya bisa memeriksa dari tes darahnya, dan memasang infus untuk menambah energi abang, dan menggantikan nutrisi yang belum masuk sejak pagi.

Butuh satu jam untuk tahu hasil labnya. Di saat menunggu hasil lab, aku sempat berhasil memaksa abang makan roti, meski hanya dua sampai lima gigitan, aku potong kecil-kecil. Tapi aku puas, paling tidak perut abang tidak terlalu kosong.

Akhirnya keluar juga hasil lab.-nya, dan yang keluar hanya 3 item, yang kesemuanya di dalam batas normal. Ini membuat dokter heran, dan tidak bisa memastikan penyakitnya. Menurutnya semua penyakit bergejala sama seperti ini, dan dia tidak berani membuat asumsi awal. Akhirnya diputuskan untuk abang masuk rawat inap.

Celakanya, rumah sakit ini kekurangan kamar pasien. Terlalu banyak orang Bandung yang sakit, gara-gara suhu Kota Bandung yang ga jelas. Semua kamar terisi. Akhirnya dengan berat hati abang aku rujuk ke rumah sakit tetangga. Dengan bantuan teman yang juga khawatir dengan kondisi abang, bisa mendapatkan kamar di sana. Dan tanpa menunggu lama lagi, abang kami angkut ke rumah sakit sebelah. Untungnya aku membawa tiga bala bantuan yang bisa memapah tubuh abang yang besar.

Tidak sampai 10 menit kami sampai di rumah sakit tetangga. Dan kembali abang harus masuk ke UGD untuk pemeriksaan lebih jelas sebelum masuk ke ruang rawat yang sudah kami pesan.
Tapi belum sampai abang pindah ke tempat tidur dorong, secara tiba-tiba Abang muntah dengan hebatnya. Sedikit kue sempat masuk ke perutnya, keluar semua. Muntahannya mengenai baju dan rambutnya yang panjang dan tentu saja tempat tidur doronngnya. Celakanya, tisu kita masih ada di mobil. Larilah aku ke mobil untuk mengambil tisu.
Saat aku kembali dari mengambil tisu, abang sudah dipindah ke tempat tidur dorong yang bersih. Lantai sebagian sudah dibersihkan dari muntahan abang. Aku langsung membersihkan muntahan yang ada di baju, tangan, dan rambut abang. Bau muntahan memenuhi ruangan. Entah bagaiamana aku bisa kuat? Tapi memang tidak kurasakan.

Abang langsung dibawa masuk dan ditangani seorang dokter cantik.

Kembali abang tetap diam saat ditanya, tidak bisa menceritakan apa yang dia rasa. Dia hanya mengisyaratkan kepalanya pusing dan beputar-putar.
“Kapan ini mulai terjadi? Langsung begini atau sempat sakit?”dokter itu bertanya padaku.
Aku kembali menceritakan apa yang sudah aku ceritakan di rumah sakit sebelumya.
“Senin, memang dia sudah mulai kelihatan pake jaket, tapi kita kira hanya flu biasa karena memang virus influenza lagi muter di kantor. Terus besoknya, sempat ke dokter, dan sempat shalat biasa, bahkan bisa naik ke lantai atas sampai sore. Masih bisa diajak ngobrol dan bercanda meski cuma nyengir responnya. Tapi besoknya, tadi pagi, saya lihat dia hanya tiduran, dan sampai sore ga bisa bangun. Setiap kali diajak makan, seperti yang berat buat bangun. Sampai akhirnya kita bawa ke rumah sakit malam ini. Dan dia satu hari ini belum bicara apapun.”
“Pak Faizal....!”
Abang langsung bangun dengan respon yang sama . Dia hanya bangun sekejap, lihat kanan kiri dan matanya mulai menutup lagi
“Pak... bangun, pak! Lihat saya!” si dokter sekarang agak keras lagi.
Sekali lagi abang bangun spontan.
“Lihat saya, pak!”
Abang menoleh ke dokter cantik itu. Abang memusatkan perhatiannya.
“Bapak bisa lihat saya?”
Abang hanya memandangnya panik. Matanya yang tajam bagai elang, berusaha mengirimkan sensor ke otak untuk menghasilkan gambar siapa yang ada di hadapannya. Si dokter tidak mau lepas, dia langsung mencecarnya dengan pertanyaan dan memeriksa semua gerak motoriknya; mulai dari gerak mata, gerak lidah, gerak tangan, sampai gerak kaki. Semuanya kelihatan normal. Abang bisa menjawab semua pertanyaa dalam keadaan sadar penuh. Hanya yang abang sama sekali tidak respon rasa sakit.
“Bapak tau di mana ini?”
Abang mengangguk.
“Tau siapa yang mengantar bapak?”
Dia melihat ke arahku, dan mengangguk.
“Apa yang bapak rasa?”
Kali ini abang diam, dan menutup mata.
Dokter bingung, aku lebih bingung lagi. Dokter menoleh padaku.
“Bagaimana dengan rekam medisnya? Apa pernah dia terlibat dengan jarum suntik atau obat-obatan?”
Aku tertegun. Wah, aku gak tahu soal yang satu ini....
“Saya kurang tau, dok....tapi rasanya tidak.”
Dokter mengangguk. “Kita lihat aja hasil labnya. Harus tes darah ulang, biar kelihatan semuanya.”
Aku hanya mengangguk setuju.
Dokter pun mengangguk dan meminta seorang suster untuk mengambil sampel darahnya.

Setelah sampel diambil, kita hanya bisa menunggu hasil keluarga. Dan itu yang membuatku tidak tenang. Abang terlihat gelisah di tempat tidur dorongnya. Aku kemudian tersadar, baju abang masih dengan baju yang terkena muntahan tadi. Selain bau, pastinya basah. Abang bisa masuk angin. Tapi abang mau pakai baju apa lagi? Abang tidak membawa salin. Hanya ada sweater wol-ku yang aku pakai. Alternatifnya hanya itu. Mau tidak mau.

“Bang.... ganti baju dulu, ya....,” panggilku pelan di telinganya.
Abang langsung terbangun.
“Abang ganti baju, biar ga masuk angin, ya...?”
Abang hanya mengangguk lemah menurut.
Dan dengan bantuan Tan-tan, meski sulit karena badan abang yang lemas, aku bisa menggantikan bajunya yang basah dengan muntahannya dengan sweater wolku. Yah, mau bagaimana lagi, hanya baju itu yang tidak menempel di badan.
Dengan baju yang kering, abang terlihat nyaman, dan kembali memejamkan matanya.

Aku tahu, abang pasti ingin segera masuk ke kamar dan tidur di tempat tidur yang seharusnya dan istirahat dengan tenang. Aku tahu itu, dan sudah pasti aku juga pengen seperti itu. Mana tega aku membiarkan abang tergeletak di sini bersatu dengan pasien-pasien gawat darurat dengan segala macam bentuk rupa. Ditambah baru saja ada pasien yang meninggal dibawa keluar dari ruang tindakan. Dan abang sempat melihat jenazahnya. Pengen aku langsung memalingkan wajanya bisa tidak melihat sosok yang ditutupi kain itu. Abang melihatnya dengan nanar dan perlahan penutup matanya lagi.

Kalau kita sedang menunggu sesuatu, waktu seperti berjalan sangat lama, terlebih sesuatu yang tidak pasti hasilnya. Dan sangat mengesalkan. Hingga dokter datang lagi dan menginstruksikan untuk foto torax. Waduh, ini lagi yang aku takutnya. Abang kan, perokok berat. Aku tidak berani membayangkan melihat hasil foto paru-paru abang yang hitam semua akibat terlapisi racun nikotin yang dihisapnya bertahun-tahun. Aku berdebar-debar menunggu hasilnya.

Akhirnya hasil lab darahnya keluar. Dan sangat mengejutkan, dengan semua point yang diperiksa, kesemuanya menunjukkan hasil yang normal, bahkan cenderung bagus. Abang sama sekali tidak ada masalah dengan dalam tubuhnya. Semuanya bagus. Lalu apa? Apa yang menyebabkan abang seperti ini? Dan bagaimana dengan hasil fotanya?

Di saat kita lagi menunggu foto datang, instruksi mengejutkan lainnya datang.

“Ini takut dia muntah lagi, kita mau pasang selang buat masukkin makanan, biar ga keluar lagi.”
Aku tertegun. Selang ke perutnya? Maksudnya sonde? Dari hidung? Aku pernah membaca dalam sebuah cerita bagaimana sakit dan tidak nyamannya bila memasukkan selang ke dalam perut melalui mulut ataupun hidung. Apalagi dari hidung. WADUH abang.... perih aku membayangkannya.
Tapi aku sekali lagi tidak bisa berbuat apa-apa, hanya mengangguk menyetuju, toh ini buat abang juga, meski aku tahu, memasukan selang lewat hidung menuju perutnya, bukanlah sesuatu yang nyaman, bahkan mungkin sakit. Bagaimana kalau abang berontak? Bagaimana kalau abang marah sama aku, karena mengizinkan dia disiksa seperti itu?
Aku pun tidak berani memberitahukan abang soal yang satu ini. Salahku juga. Tapi aku takut abang berontak marah.

Hingga detik-detik pemasangan pun datang. Disiapkan tube feeding atau selang makan, dan cathether untuk urine atau selang kencing. Tunggu, maksudnya abang mau dipakaikan kateter juga? Tapi masuk akal, mengingat abang belum buang air kecil dari tadi pagi dengan dia tidak bisa bangun dari tempat tidurnya sepanjang hari.
Dan siap dipakaikanlah itu segala macam selang.
Perawat sempat meminta izin pada abang.
Aku bisa menangkap mata panik abang dengan selang yang siap masuk ke hidungnya, tapi mau bagaimana lagi, mereka sudah siap dengan tugasnya.
Aku langsung memegangi wajahnya dengan lembut tapi kuat untuk membuat kepalanya stabil.
“Mas, painless, ya...,” aku sempat meminta perawat yang melaksanakan tugas untuk melakukannya tanpa membuat abang kesakitan.
Si perawat mengangguk tersenyum, “Diusahakan, mbak.”
Aku hanya meringis. Aku tahu, kalian tidak bisa janji. Akupun kembali berkonsentrasi pada abang.
Dengan memegangi wajah abang, kuucapkan ‘Bismillahirrahmanirrohim....’ di dekat wajahnya, dilanjutkan dengan perlahan-lahan selang kecil itu masuk ke salah satu lubang hidungnya. Perasaanku campur aduk tidak karuan. Tapi untunglah aku kuat. Aku tahu abang sangat tegang seiring benda asing itu masuk. Doaku terus mengiringinya, membuatnya tenang, jangan panik.
Sesekali abang tersedak dan terasa sangat tidak nyaman, tapi perawat membimbingnya untuk abang bisa menerima benda asing itu ke dalam perutnya.
Doaku terus untuk abang, hingga akhirnya, benda itu masuk dalam posisi yang aman. Abangpun terlihat masih beradaptasi dengan benda kecil dan panjang bersarang di perutnya.
Aku terus menenangkan abang agar tidak panik dengan apa yang dia rasa. Aku semakin miris. ‘Ya Allah... aku ga percaya aku akan menyaksikan abang seperti ini.’ Abang sekarang terlihat tidak berdaya, begitu lemah. Ini bukan abang yang aku lihat sehari-hari di kantor. Abang yang aku kenal begitu kuat dan perkasa sampai menjadi andalan kantor untuk bisa menyelesaikan pekerjaan yang darurat dan bejibun. Dia ingin jadi superman, tapi dia lupa man tidak selalu super. Dan itu masih terlihat meski dia sudah lemah begini.
Abang sangat tidak nyaman dengan selang yang masuk di hidungnya. Aku terkaget saat di sedang berusaha menarik selang dari hidungnya.
Refleks aku langsung memegang tangannya, “Abang, jangan dilepas!”
Dia pun diam. Bagaimana pun juga dia harus menerima benda kecil menyebalkan itu di dalam tubuhnya.

Kini perhatiannya beralih pada kepalanya yang masih berputar hebat. Abang memegang kepala dan berusaha mimijitnya. Aku refleks memijit kepalanya. Entah kenapa, aku yang biasanya lihai memijit badan orang, giliran memijit kepala, aku jadi kikuk. Aku merasa tidak bisa memijit, tapi berusaha kulakukan dengan benar. Dan bisa membuat abang diam, membiarkanku memijit kepalanya. Aku cukup lega bisa membuat abang tenang, paling tidak mengurangi rasa sakitnya.

Waktu kembali berjalan sangat lama. Ingin sekali aku menarik tempat tidur roda abang ke kamar, toh aku sudah tau tempatnya ini dan memang sudah disiapkan untuk abang, tinggal masuk saja. Tapi pengen, aku dimarahi dokter?


Hasil rontgen akhirnya keluar, dan ini semakin membuat para dokter heran. Hasil foto paru juga bagus, tidak ada bercakan lunak yang mengarah ke TB aktif, juga tidak ada pembesaran cor yang menandakan kondisi paru abang masih bagus. Nah lho, jadi apa, dong?

Ini yang membuat para dokter kebingungan. Mereka tidak bisa menemukan indikasi apa-apa dari darah dan parunya yang bisa menyimpulkan apa yang menyebabkan abang begini. Tapi abang masih saja terkulai lemas, tak berdaya, bahkan untuk membuka mata pun sulit, meski setiap ada suara yang keras sedikit, dia langsung bangun dan mencari sumber bunyi. Dan masih, belum bisa mengeluarkan suara. Sesekali abang menyapu pandangan ke sekitar untuk memastikan dia mana dia sekarang. Saat dia tahu masih di R.UGD, dia hanya menghela nafas dan menutup matanya lagi. Sementara aku sudah seperti orang gila dan setrikaan, bolak-balik tidak tenang, menunggu keputusan dokter. Entah berapa kali aku bertanya pada suster, kapan aku bisa bawa abang ke kamar? Tapi tetap jawabannya selalu sama; tunggu hasil observasi dokter. Aku hanya menghela nafas dengan tersenyum setengah kesal.
‘Maafkan aku, bang, aku belum bisa bawa abang ke kamar’
Dengan hasil yang bagus, dokter pun memutuskan untuk mengkonsultasikannya pada dokter syaraf. Diindikasikan terjadi stroke ringan.
Na’udzubillahiminzalik. Abang pun harus menunggu sampai dokter syaraf datang.

Tapi sangat menjengkelkan lama sekali dokter itu datang. Waktu terus berjalan. Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi dan abang semakin terlihat gelisah.

Tidak hanya abang yang terlihat gelisah, tapi juga Erik yang mengantarkan kami. Aku tahu dia lelah, dan mengantuk, belum lagi nanti dia harus mengantarkan aku pulang. Tapi maaf, Rik, kita tidak mungkin meninggalkan abang sendirian.
“Mbak Upiek gak ngantuk?” tanyanya dengan matanya yang letih.
Aku hanya bisa menggeleng dengan tersenyum. Sama sekali tidak terasa mengantuk. Pikiranku terfokus pada abang. Aku belum bisa tenang sebelum abang dibawa ke kamar dan bisa istirahat dengan tenang.
‘Ya ampun, bisa ga sih, langsung aja abang dibawa ke kamar, biar dokter syarafnya yg datang ke kamar?’
‘On your dream....’ Abang tetap harus menunggu di sini, bersama pasien-pasien lainya yang keluarganya mulai penasaran dengan abang. Perhatian dokter terlihat lebih pada abang karena rasa penasaran itu.

Tik Tok tik tok....
Jam sudah menujukkan pukul setengah 2 pagi! Gila mau sampai jam berapa di sini? Mau sampai kapan abang tersiksa di sini, kedinginan, tidak nyaman, dilihatin orang seperti makhluk aneh? Keterlaluan rumah sakit ini. Lama sekali pelayanannya! Ada perasaan bersalah membawa abang ke rumah sakit ini, yang sudah sangat terkenal dengan pelayanannya yang sangat lama. Tapi di sisi lain, aku percaya hanya di rumah sakit ini yang pemeriksaannya bisa dilakukan secara akurat. Kualitas pemeriksaannya bisa dipertanggung jawabkan. Aku tahu mereka aku mencari tahu sampai bisa dipastikan apa yang menyebabkan abang seperti ini.

Panjang umur, baru selesai diomongin, sesosok dokter yang tidak meyakinkan penampilannya, datang menghampiri kami.
Perawakannya tidak terlalu tinggi, dan terlihat ngantuk dan malas. Mungkin kalau bukan karena tugas, tidak mau dia datang malam-malam begini ke UGD.
“Faizal?’ dia menanyakan padaku.
Aku mengangguk, dan mempersilahkan dokter itu memeriksa abang.
Dari caranya memeriksa abang, aku tahu dia dokter syaraf. Dia memeriksa abang dengan menggerakkan semua otot yang abang punya. Sampai menyuruh abang mengangkat kaki ke atas dan menahannya beberapa saat. Dan abang bisa melakukannya dengan baik. Kemungkinan indikasi stroke ringan, pupus sudah. Abang dalam keadaan baik. Lalu yang menyebabkan abang tidak bisa bicara apa, dong?

Akhirnya dokter itu mengajakku keluar untuk bicara empat mata, dan menanyakanku sesuatu yang mengagetkanku.
“Punya masalah apa dia?” tanyanya langsung.
Aku tertegun. Dan harus kujawab tidak tahu.
“Ini bukan sakit fisik. Saraf-syarafnya bagus, kemungkinannya hanya satu, ada yang sedang dipikirkan, dalam sekali, hingga seperti ini.”
Aku terkatup.
“Tapi akan saya analisis lagi. Tapi kalau memang tidak ada apa-apa dengan fisiknya, dengan terpaksa akan kita konsulatasikan ke psikiatris.”
Aku semakin tertegun. “Psikiatris, dok?”
“Ya, habis, hanya itu, biar kita tahu, apa yang dipikirkan dia.”
Aku hanya bisa terkatup. Dan melihatnya pergi begitu saja.

Aku kembali pada abang yang sudah tertidur lagi. Aku pandangi wajahnya. Miris sekali. Ini laki-laki yang selalu bikin aku gugup kalau dekat dengan dia. Saking gugupnya, sampai aku tidak berani bicara banyak dengannya dan hanya seperlunya saja. Aku tidak bisa dekat dengan dia, aku tidak bisa bercanda dengan dia. Terkadang aku iri dengan Eka. Begitu ringannya bisa bercanda, bisa hina-hinaan, bisa ledek-ledekkan, bisa bikin abang ketawa dengan renyahnya. Ingin aku seperti itu. Aku ingin dekat dengan dia. Tapi sekarang, aku bisa sedekat ini, tapi dengan keadaan begini. Dengan kondisi abang yang tidak berdaya, yang tidak bisa berkomunikasi, dengan selang menancap di hidungnya. Bukan begini mauku!

Pukul 2 pagi, Sigit, kawan kita yang sudah mencarikan kamar di rumah sakit ini, datang menggantikanku.
Untung ada dia, sehingga aku bisa pulang. Bukan berarti aku tidak mau menemani abang. Tapi ya itu tadi, selain aku juga harus menjaga kesehatanku yang tidak mungkin tidak tidur satu malam penuh, aku tidak mungkin terus menemani abang dalam posisiku bukan sebagai siapa-siapanya abang. Aku tidak mau ada gunjingan yang tidak mengenakkan nantinya. Aku harus pulang.

Dengan berat hati, aku pulang dan meninggalkan abang yang entah harus menunggu apa lagi sampai akhirnya nanti dibawa ke kamar inap.


3
Satu Hari Penuh Arti ....

Aku pulang ke rumah dengan perasaan tidak tenang. Pikiranku masih pada abang, yang sampai aku pulang tadi masih menunggu, apa penyebab abang seperti ini. Baju abang yang tadi terkena muntahannya, langsung aku rendam untuk dicuci besok. Tidak mungkin aku mencucinya malam ini, selain sudah malam, aku sudah kecapean sekali.
Tapi mungkin karena saking kecapeannya, begitu aku menyentuh tempat tidur, akupun langsung pulas tertidur. Sempat bangun satu jam kemudian untuk shalat subuh dan tidur lagi.

Pukul 8 aku bangun, dengan kepalaku langsung pada abang. Abang di rumah sakit. Bagaimana keadaan dia sekarang?

Aku langsung menelepon Sigit di rumah sakir.
“Halo?” Sigit menyahut dari sana.
“Gimana, Git, abang?”
“Sudah, sudah masuk ke kamar.”
Aku langsung menghela nafas lega, “Alhamdulillah. Jam berapa tadi malam masuk kamarnya?’
“Hah, malam apaan? Baru tadi masuk kamarnya juga, jam 7 tadi!”
Aku terkaget, “Hah!? Jam tujuh tadi. Jadi abang di UGD semalaman?”
“Ya, iyalah!” dengan sewotnya.
Aku tercenung tidak percaya. Gila, lama banget! DI UGD sampe satu malam penuh!? Kebangetan!
“Terus, sekarang abang gimana?”
“Ya, udah tidur lagi. .... Piek.. ke sini, lah, ini Ical ga ada yang jaga. Diaturlah, siapa yang giliran jaga,” dengan nada memelas. Kedengaran sekali dia kecapean dan butuh pengganti biar dia bisa pulang.
“Iya..., iya... aku ntar ke sana. Aku ke kantor bentar, terus ke rumah sakit. Oke?”
“Iya, cepetan, ya.”
“Iya.” Dan langsung menutup telepon untuk segera mandi.

Selepas mandi, aku membereskan apa yang kira-kira dibutuhkan abang. Aku ingat-ingat, barang-barang penting yang harus dibawa buat pasien di rumah sakit dan penunggunya. Setelah sering menjaga orang di rumah sakit, dengan segala keperluannya, sepertinya aku tahu apa saja yang urgent.
Aku membawa beberapa baju ganti untuk abang untuk jaga-jaga. Dua buah kaos oblong berukuran besar seukuran abang, aku siapkan. Kemudian sisir, dan handuk.

Ini membuatku bingung. Apa aku harus ke kantor dulu baru ke rumah sakit, atau langsung ke rumah sakit dulu baru ke kantor? Tapi kalau ke kantor dulu, belum tentu aku bisa ke rumah sakit.
Akhirnya aku putuskan untuk ke rumah sakit dulu sebentar, baru ke kantor. Toh tidak akan lama, hanya mengantarkan kebutuhan abang.

Aku sempat meminta izin dulu ke kantor, dan lega aku mendengar nanti ada orang kantor yang akan datang ke rumah sakit, itu berarti aku bisa ikut ke kantor dari rumah sakit.

Akupun langsung ke rumah sakit. Tidak sabar ingin melihat keadaan abang. Mudah-mudahan sudah jauh lebih baik dari saat aku tinggalkan semalam.

Tapi betapa tertegunnya saat aku melihat keadaan abang, sementara Sigit bersorak dengan kedatanganku.
“Kamu udah datang, aku langsung pulang ya,”
Tapi tak kuhiraukan. Perhatianku hanya pada abang. Abang terlihat sangat lemah dan pucat, dengan sonde yang masih melekat di hidungnya. Sekarang kantung sondenya sudah dipenuhi dengan cairan hitam yang berasal dari dalam tubuh abang. Belum lagi sekarang abang memakai kateter urine yang sudah hampir terisi penuh. Aku tidak tega melihatnya.
Aku memeriksa selang dari hidungnya yang sudah berwarna hitam, tidak lagi putih seperti saat aku tinggal tadi malam. Kantung sondenya pun berisi cairan berwarna hitam. Bak seorang dokter, aku memeriksanya dengan teliti.
“Apa ini, Git?”
“Itu dari lambungnya.”
Tidak perlu dijelaskan lagi warna hitam ini adalah darah.
“Jam berapa ini keluar seperti ini?”
“Subuh.”
Aku terkatup. Perhatianku beralih pada kantung urinnya yang sudah hampir penuh.
“Jam berapa dipasang kateternya?”
“Tadi di kamar, jam setengah 8. Dia tidak bisa pipis.”
Kulihat jam tanganku, baru jam 10, berarti kateter baru dipasang 3 stngh jam dan langsung sudah hampir penuh. Aku langsung tersadar, bodohnya aku, abang belum buang air kecil dari kemarin. Ya ampun, dia menyimpan racun di dalam tubuh seharian. Aku merasa sangat bodoh, sampai melupakan kebutuhan abang penting ini. Tapi untunglah abang sudah bisa mengeluarkannya, bahkan hingga sebanyak ini. Paling tidak, dia sudah membuang racun yang justru bisa menambah sakitnya.
“Udah, ya, piek, aku pulang,” suara Sigit masuk ke telingaku. “Itu Ical harus minum obat jam 10 ini. Obatnya itu,” dengan menunjuk sebutir pil di atas meja.
Aku hanya mengangguk, dan tanpa sadar, Sigit sudah pulang begitu saja. Kasihan dia. Dia sudah kerja seharian, tapi harus stand bye menunggu abang di UGD semalam ini sampai pagi ini. Dia butuh istirahat.
Kulihat Rohmat yang masih disini menemaniku. Dia memang yang bersama Sigit menemani abang semalam. Dia duduk dengan merebahkan kepalanya di atas tempat tidur kosong di samping tempat tidur abang. Dia juga pasti mengantuk berat setelah menemani Sigit menjaga abang. Sekarang diapun harus menemaniku di sini.
“Mat, kalau mau tidur, tidur aja, mumpung tempat tidurnya kosong.”
“Iya, mbak, gampang.”
Aku hanya tersenyum perih.
Perhatianku beralih pada abang, teringat dengan obat yang harus diminumnya jam 10 ini.
“Bang, minum obat dulu, ya...,” panggilku pelan.
Abang hanya melenguh pelan, tapi menurut saat kusodorkan pil itu ke mulutnya.
Perlahan abang membuka mulut dan kumasukkan pil itu ke dalam mulutnya. Pelan-pelan aku bimbing dia minum, menelan obat yang ada di mulutnya.
Sempat dia tersedak.
“Pelan-pelan, bang....,” aku mengusap-usap dadanya.
Pelan-pelan dia mengontrol jalan udara di hidung dan tenggorokannya. Aku tahu dia sangat tidak nyaman dengan selang di hidungnya. Kemudian dia memejamkan mata mencoba untuk istirahat lagi.
Aku hanya mendesah perih. Abang masih belum bisa berkomunikasi.

Melihat abang istirahat, dan Rohmat yang sudah tertidur dengan posisi duduk merebahkan kepalanya di atas kasur, aku mencoba untuk menemui perawat dan menanyakan keadaannya.

“Sampai saat ini masih belum dipastikan apa diagnosis penyakitnya,” seorang perawat jaga mencoba menjelaskan. “Tapi kami sudah menghubungi bag. internis untuk memastikan keadaan lambungnya. Sejauh ini sih, sepertinya masih diakibatkan oleh virus. Makanya kita tunggu sampai dokter datang untuk pemeriksaan lebih lanjut.”
Aku hanya mengangguk. Yah, memang masih belum bisa dipastikan, sakit apa abang.
“Maaf, mbak istrinya?”
Aku tertegun, ini kedua kalinya aku ditanya pertanyaan ini, dan aku langsung tersenyum,
“Bukan, saya bukan istrinya, saya temannya.”
Perawat itu langsung tersenyum tidak enak. “Oh. Maaf, saya kira istrinya.”
Aku hanya tersenyum, “Tidak, pa-apa.” ‘Well, I wish too.’
“Yah, kita tunggu aja dokternya.”
Aku mengangguk, “Terima kasih, Sus.”
Perawat itu hanya mengangguk.

Aku kembali ke kamar dari melihat abang masih tertidur. Tapi aku yakin, abang tidak sepenuhnya tidur. Sesekali abang menggosok-gosok hidungnya yang gatal, atau terbangun dengan sedikit suara. Abang tidak bisa tidur.

Aku perih melihat abang. Tidak banyak yang bisa aku lakukan, selain duduk menunggunya. Diajak bicara pun sulit. Aku hanya duduk dan menunggunya.

Seorang kawan abang menelepon dan sudah mendengar tentang abang, dan akan segera kemari. Handi namanya. Dia juga memberitahuku, keluarga abang di Makassar sana sudah mendengar kabar abang, tapi masih belum ada keluarga yang bisa datang, mungkin sore nanti. Aku hanya lega mendengarnya, akhirnya keluarga abang sudah tahu, dan mungkin nanti sore akan datang. Kita tidak sendiri lagi.

Pukul 11, aku diberitahukan oleh seorang perawat bahwa mereka sedang mencarikan kamar lain untuk abang. Abang harus segera dipindahkan, karena kamar yang ditempatinya ini bukan bagian penyakit abang. Penyakit abang diklasifikasikan sebagai penyakit dalam, dan harus bergabung dengan pasien penyakit dalam, bukan pasien bedah di sini. Dan sekarang sedang dicarikan kamar untuknya. Dari perawat akupun mendapat penjelasan bahwa mereka terpaksa memasang kateter karena tadi pagi abang sulit untuk buang air kecil, sementara kandung kemihnya sudah mengeras dengan menampung urine yang sehari penuh belum keluar. Dan benar saja, begitu dipasang, dan bisa mengeluarkannya, langsung 500 cc yang keluar. Aku kembali merasa sangat bersalah karena melupakan kebutuhan abang yang satu itu. Bertanya pada abangpun, aku tidak. Entah bagaimana abang bisa menahan untuk tidak keluar, sementara untuk mengucapkannya kebutuhannyapun tidak bisa. ‘Maafin aku, bang, aku kurang peka.’

Sebelum pukul 12, aku mendapat kabar, perawat sudah mendapatkan kamar di Ruang Mawar, ruang penyakit dalam kelas 1. Dan aku sedikit lega, abang ditempatkan di Ruang Mawar, paling tidak aku sudah tahu keadaan kamar dan fasilitas yang diberikan di Ruang Mawar. Abang akan mendapat perawatan yang terbaik.

Tepat sebelum abang dipindahkan ke ruang mawar, perwakilan kantor, Bu Yusi, datang menjenguk, dan memberikan kabar, keluarga abang sudah diberitahukan dan meminta untuk membawa pulang abang ke Makassar. Aku kaget. Tidak mungkin membawa abang ke Makassar dengan keadaan begini. Yang ada juga, mereka yang datang kemari. Abang tidak bisa melakukan perjalanan jauh, abang tidak akan kuat, dan akupun tidak akan tega melepas abang seperti ini.

Sementara abang dipindahkan ke Ruang Mawar, kami berdiskusi dengan perawat untuk mengetahui keadaan abang yang sebenarnya dan kemungkinannya bila melakukan perjalanan jauh dalam kondisi abang yang seperti ini. Sekali lagi, perawat belum bisa memastikan diagnosis pasti abang, sampai menunggu penjelasan dokter langsung. Hanya saja ada kemungkinan, dengan abang yang sulit berkomunikasi seperti ini, ada gangguan pada otaknya, dan dimungkinkan untuk dilakukannya Lumbar Punctur (LP) atau pengambilan cairan di tulang belakang untuk tes lebih lanjut. Mendengar LP aku semakin pucat. Jangan LP dulu. Ini tes serius dan sangat sakit. Dan lagi harus ada persetujuan dari keluarga abang. Tidak mungkin aku membiarkan abang melalui tes itu dan membiarkan tersiksa saat pengambilan cairan itu. Tidak boleh, jangan dulu. Kita tunggu keluarganya dulu. Memang, rumah sakit tidak akan melakukan apa-apa tanpa seizin keluarganya, tapi mendengarnyapun aku sudah pucat, dan aku tidak mau abang melalui itu. Selang yang masuk di hidungnya pun sudah cukup menganggunya, ini mau ditambah dengan LP. Cukup!

Masuk ke dalam kamar, aku kembali harus melihat abang yang tergolek lemah tidak berbicara. Wajahnya pucat. Aku perih melihatnya. Dia memalingkan wajah dariku. Tidak kumasukkan hati. Aku sudah terbiasa dengan sikap abang padaku. Dan dengan keadaan abang yang seperti ini, Tidak mungkin abang dibawa pulang paksa, terlebih langsung dibawa ke Makassar. Gila aja, apa!

Bu Yusi tidak bisa tinggal lama, dan harus kembali ke kantor. Untuk sementara aku yang akan menjaga abang, sampai nanti ada penggantiku yang dateng sebelum sore. Aku hanya mengangguk. Toh ini akan membuatku tenang, bisa menunggui abang.
Akhirnya Bu Yusi meninggalkanku sendirian bersama abang. Ini akan menjadi siang yang panjang, berdua dengan abang.

Sekitar pukul 1 sekembalinya aku dari Shalat Dhuhur, teman abang yang bernama Handi akhirnya datang. Iapun tampak kaget dengan keadaan abang, dan sempat tidak percaya.
“Kunaon, Cal?” tanyanya langsung dengan tersenyum renyah, tidak ingin menunjukkan wajah cemas di hadapan abang.
Abang hanya tersenyum lemah. Dia terlihat senang dengan kedatangan kawannya ini. Dia tahu siapa yang datang.
Handi langsung melontarkan gurauan. Abang tersenyum lagi bahkan hampir tersedak karena ingin tertawa, tapi tertahan dengan selang di tenggorokannya.
“Shs... pelan...pelan, bang....” aku menenangkannya, meski dalam hati senang, abang merespon kawannya dengan baik.

Aku memutuskan keluar dan menunggu di luar, untuk membiarkan abang dengan kawannya ini. Mungkin dengan Handi, abang mau berkomunikasi.

Tapi sampai Handi akhirnya keluar menyusulku, abang masih belum mengeluarkan sepatah katapun. Handipun meminta penjelasan tentang keadaan abang. Aku jelaskan satu cerita yang sama untuk kesekian kalinya

“Dapat kabar dari mana, tadi?” aku iseng bertanya.
“Aku dapet kabar dari Tribas, temenku yang di Jakarta, tapi anehnya, dia dapet dari Kiki. Kiki yang kita tahu cuma mantan pacarnya yang sekarang di tv nasional.”
“Hiki, maksudnya?”
“Iya. Nah dari Tribas menyebar ke semua kawan-kawan di Jakarta, terus nyampe ke aku dan langsung menelepon ke sini.”
“Oh,” aku hanya mengangguk dengan tersenyum. Kawan abang yang satu ini cukup menyenangkan. Dia terlihat santai dan humoris.

Handi kawan satu kampus abang tapi berbeda jurusan dan jauh tingkatan angkatan. Dia jurusan Aerodinamika angk 2002, sementara abang jurusan Astronomi angk. 1997. Jarak angkatan dan jurusan yang berbeda tidak menghalangi persahabatan mereka. Handi mengakui dia mungkin salah satu kawan abang yang berani menahan abang kalau sedang marah dan siap meledak.

Dari Handi juga aku mendengar kesamaan cerita tentang mantan pacar abang yang ‘istimewa itu’. Ternyata cerita itu memang benar. Dan memang berbuntut panjang pada abang dan meninggalkan masalah untuk abang. Dan mungkin masalah itu yang memperparah keadaan abang sekarang ini. Semakin lengkaplah potongan-potongan cerita abang dengan mantan pacarnya itu yang selama ini kabur untukku. Aku hanya bisa menghela nafas perih. Jika memang itu yang menyebabkan abang seperti ini, betapa kurang ajar dan dan tidak tahu diri perempuan itu, dan membuat abang seperti ini. “Ya, Allah...”

Bahkan sempat terlontar praduga, ini sebuah ‘kiriman.’ Abang yang ditanya itu, hanya tersenyum perih. Handi bahkan menawarkan untuk memanggil guru spiritualnya. Dan abang mengangguk setuju. Tapi bagaimana bisa dihubungi kalau nomornya ada di hape abang yang terkunci no PUK karena beberapa kali salah memasukkan nomor PIN. Sepertinya harus ditunda dulu menghubungi guru abang.

Praduga lain muncul, kemungkinan pengirimnya adalah ‘dia’, dengan latar belakang cerita mereka, dan bagaimana dia bisa pertama kali tahu lalu mengabarkan ke semua kawan abang di Jakarta? Tapi langsung bisa aku gugurkan dengan kenyataan ternyata ‘dia’ pertama kali mendapat kabar dari kantor yang putus asa bagaimana mennghubungi keluarga abang. Kemungkinan besar hanyalah mantan abang. Dan memang benar, dengan cepat dia bisa langsung menghubungi kawan-kawannya dan keluaraganya.

Dengan gugurnya praduga itu, penyakit pun abang masih tanda tanya. Yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu dokter untuk memeriksanya.

Dokter pertama datang untuk memeriksakan bagian dalam abang, yang juag kebingungan dengan keadaan abang. Semua hasil lab bagus, tapi kenapa abang sulit bicara. Akhirnya dokter mengkonsultasikannya pada dokter syaraf yang akan datang siang ini juga.

Dokter kedua datang. Dokter syaraf yang juga kebingungan dengan keadaan abang. Beliau akhirnya menginstruksikan untuk dilakukan CT Scan. Tapi tentu saja juga harus seizin keluarganya. Keluarga yang sangat ingin membawa abang pulang, meski dengan kondisi abang yang seperti ini. Handi yang mendengar ini ikut geram. Tidak mungkin membawa abang seperti ini. Paling tidak tunggu beberapa hari sampai keadaan sedikit membaik. Bahkan kalau sampai terjadi, satu kompi kawan-kawannya bisa dikerahkan untuk menahan abang di sini.

Aku terus menjaga abang, dan berusaha memenuhi kebutuhannya, meski tidak terucap sekalipun olehnya. Sesekali aku melihat abang menggerak-gerakkan jemari kedua tangannya dengan meremas atau mengepal-mengepalkan tangannya, juga menaik-naikkan kakinya yang sangat bisa kubaca abang sedang melatih syaraf motorik tangan dan kakinya sendiri yang mungkin terkadang ia rasakan kebas atau mati rasa, untuk menghindari kelumpuhan. Abang tidak bodoh. Dia bisa membacanya sendiri, dan berusaha untuk tidak sampai itu terjadi.
Tapi abang lebih sering mengeluhkan kepalanya pusing yang diisyaratkan dengan tangannya memijit-mijit kepala sendiri dan wajahnya mengerenyit menahan sakit. Tidak perlu diminta aku langsung memijit kepalanya, sesekali kuusap kepalanya dengan minyak kayu putih dan diapun bisa kembali tenang. Sesekali ada keinginan untuk mengecup kepalanya untuk menenangkannya. Tapi rasa takutku dan keinginan untuk menjaga kehormatanku dengan dia bukan muhrimku terus menahanku. Aku takut abang marah dengan sikapku yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan di saat abang lemah, dan juga aku tidak mau dicap perempuan tidak tahu etika. Abang pasti tidak akan suka bila aku mencuri cium untuknya meski hanya di keningnya. Mungkin suatu hari nanti abang akan menyadari perasaanku dan perlahan-lahan akan membuka hatinya untukku. Aku harus bersabar. Bersabar menunggu abang.
Telapak tangan dan kakinya sedingin es seperti yang baru terkena air, sementara kepala dan lehernya terasa hangat di atas normal. Aku pun terus menggenggam-genggam kaki dan tangannya untuk tetap hangat. Sebuah moment yang kunikmati tapi sangat menyakitkanku. Aku tidak mau melayani abang dalam keadaannya seperti ini. Aku ingin melayani abang dalam keadaannya yang sehat, bukan seperti ini. Tapi mungkin harus bermula dari seperti ini, yang kemudian yang berlanjut untuk sesuatu yang lebih indah. Allah punya rencana untukku.
Saat sore, air hangat untuk mandi datang. Seperti kebijakan di sini yang sudah sangat kukenal, perawat tidak akan memandikan pasien kecuali bila tidak ada keluarga yang menunggunya. Dan karena abang hanya punya aku. Maka akulah yang akan melakukannya. Paling tidak, sedikit akan membuat abang merasa segar.
“Bang, dilap dulu, ya, badannya, biar segar,” aku meminta izinnya.
Abang hanya mengangguk.
Aku tersenyum lega. Dan perlahan-lahan kubasuhkan kain basah hangat itu ke tubuhnya. Mulai dari wajahnya, lehernya, tangannya, dadanya, punggungnya, hingga kakinya. Semua kulakukan dengan hati-hati, dan abang tidak menolaknya. Abang menurut dan pasrah aku basuh seperti seorang bayi. Abang sepertinya tidak punya kekuatan untuk membantah apalagi meronta. Aku lakukan semuanya dengan hati-hati dan cepat. Mungkin terasa kaku dan canggung bagi abang yang merasakannya, karena jujur, ini adalah pertama kalinya aku membasuh orang sakit seperti ini, terlebih orang itu bukan keluargaku dan laki-laki pula, yang bukan muhrimku. Sedikit aku merasa sudah seperti seorang ibu pada anaknya, atau seorang istri pada suaminya. Seorang pacarpun belum tentu bisa melakukan ini. Mungkin jika bukan abang, aku tidak akan mampu melakukannya. Hanya abang yang bisa membuatku seperti ini. Dan aku berusaha melakukannya dengan senyaman mungkin
Tidak lupa dengan bantuan perawat, aku menggantikan sweater abang yang dipakai sejak semalam tadi di UGD, dengan baju yang bersih. Tapi bodohnya aku, karena membawakan abang kaos oblong, bukan kemeja kancing depan. Seharusnya abang memakai kemeja kancing depan untuk memudahkan keluar masuk selang infus dan sondenya. Tapi daripada tidak ada. ‘Maaf, ya, bang.’
Abang memakai kaos oblong milikku. Kaos oblong dengan ukuran laki-laki bergambar macho. Tidak mungkin kan, abang kupakaikan kaos bergambar Donal bebek, bisa heboh dunia persilatan nanti.
Setelah itu aku meminta izin untuk menaikkan rambutnya yang panjang yang mengumpul di lehernya. Pasti itu gerah sekali dan tidak nyaman.
“Bang, rambutnya dikeatasin, ya, biar lehernya tidak kepanasan?”
Sekali lagi abang hanya mengangguk, dan membiarkanku mengangkat kepalanya dan menaikkan rambutnya ke atas hati-hati. Aku langsung ingin menyisir rambutnya yang panjang, tapi langsung tertegun dengan banyaknya rambut abang yang rontok di atas bantal. Waduh, kalau disisir, aku takut rambutnya lebih banyak lagi yang rontok. Mending jangan deh. Aku hanya bisa merapihkannya dengan tanganku. Bodohnya lagi, aku lupa membawa bedak talc, untuk mengurangi panas dan lengket di leher abang. Ternyata banyak sekali yang ketinggalan aku bawa. Aku kurang teliti. PAYAH! Tapi cukuplah untuk sedikit membuat abang nyaman, tidak kepanasan dan lengket dengan baju yang dipakai sejak malam tadi. Sekarang abang kelihatan lebih segar dari sebelumnya. Aku puas melihatnya.

Tak lama setelah aku membasuh abang, beberapa kawan abang lainnya datang menjenguk. Satu diantaranya aku kenal karena pernah datang ke kantor dan dikenalkan padaku. Namanya Echi, gadis mungil manis, yang kukira sebelumnya adalah adiknya, karena dulu abang mengenalkan dia sebagai adiknya, tapi ternyata adik ketemu gede, alias teman. Satu kawan lainnya, kulihat seperti kembarannya abang. Badan besar, rambut panjang dan memakai baju serba hitam, mirip abang. Abang kembali terlihat senang dengan kedatangan kawan-kawannya ini, sementara mereka tidak bisa menyembunyikan rasa kaget dan tidak percaya dengan keadaan abang, terlebih setelah tahu abang tidak bisa berkomunikasi.
“Gila, bisa sakit juga lu, Cal,” celetuk satu dari mereka renyah, yang mengartikan abang tidak pernah sakit serius sebelumnya. Dan mungkin ini adalah pertama kalinya abang terlihat seperti ini.
Abang hanya tersenyum tipis. Sekali lagi dia terlihat senang dengan kedatangan kawan-kawannya. Tapi tetap belum bisa juga membuatnya bicara. Abang masih membisu, seperti sulit sekali untuk mengeluarkan sepatah katapun.
Tak banyak yang bisa mereka lakukan, selain menemaninya yang cukup membuat abang senang.

Sore hari menjelang maghrib, satu kompi teman-teman kantor datang menjenguk lengkap dengan anak-anak SMK magang yg jumlahnya lebih dari 6 orang! Mereka pun tidak percaya dengan keadaan abang, dan perih melihatnya. Abang yang dalam keadaan sadar mengenali satu-persatu siapa saja yang datang. Dia bahkan bisa merespon pertanyaan meski dengan hanya mengangguk atau menggeleng. Suatu respon yang selalu kudapat dalam satu hari ini. Abang tetap tidak bisa bicara.

Selepas teman-teman kantor pulang, aku kembali perih melihat keadaan abang meski selalu kuhibur hatiku dan juga abang dengan kalimat :
“Tidak pa-pa, ya, bang, ini cuma sebentar kok, nanti juga sembuh. Yang sabar ya....” sambil mengusap-usap kepala atau tangannya yang masih terasa dingin.

Hampir semua orang di sana melihat betapa aku sayang dengan abang, betapa aku peduli dengan abang dan sangat memperhatikan hal-hal kecil untuk abang, sampai tidak rela meninggalkannya. Tapi sayangnya, aku harus pulang. Akan ada teman kampusnya yang menjaganya malam ini, Handi dan Sigit, dan juga abangnya akan datang dari Jakarta. Ini juga yang aku takutkan. Aku takut begitu abangnya datang dia akan dengan semena-mena membawa abang pulang ke Jakarta atau bahkan langsung ke Makassar meski dengan kondisi abang yang seperti ini. Mudah-mudahan tidak.

Dan sangat berat aku harus meninggalkan abang, akan ada dua kawan kampusnya yang menemaninya, Handi dan Sigit. Kutitipkan semua keperluan abang pada temannya yang akan menjaganya dan semua obat-obatnya, juga pesan dokter yang menginginkan CT Scan untuk abang. Kalau saja aku bisa, aku pasti menunggu abang lagi malam ini, tapi aku juga harus menjaga kondisi badanku. ‘Jangan gegabah, Piek, you’re not superwoman’
Dan saat aku pamitan padanya, Echi nyeletuk ringan,
“Tidak dicium dulu, mbak?”
Meski sempat kaget, aku hanya tersenyum dan melihat abang. Sudah kuperkirakan, abang langsung memalingkan wajahnya dariku, mengartikan ‘don’t you dare to kiss me!’
Aku hanya tersenyum geli, “Tidak perlu."
Dengan berat hati aku tinggalkan abang, terlebih besok aku belum tentu bisa menemani abang seharian, karena aku harus masuk kantor setelah hari ini aku izin satu hari penuh hanya untuk menemani dan menjaga abang di rumah sakit.


4
Jum’at Terakhir.

Sampai di rumah perasaanku antara tenang dan tidak tenang. Tenang dengan ada temannya yang menemani, tapi juga tidak tenang dengan kondisi abang yang serba belum pasti, ditambah abanganya yang akan datang.

Dan kecemasanku terjadi. Sekitar pukul 10 malam aku mendapat laporan dari anak-anak yang menjaga abang di rumah sakit, kalau abangnya yang bernama Arman, sudah datang, dan tetap bersikeras akan membawa abang pulang. Gila aja, apa!? Tidak lihat apa, dia, keadaan abang seperti itu? Mana bisa abang melakukan perjalanan jauh. Tidak mungkin abang dibawa pulang!

Akhirnya kami terpaksa berkonspirasi dengan skenario, abang tidak bisa dibawa pulang tanpa ada izin dari dokter yang menanganinya. Dan dokter baru akan datang besok pagi. Itu berarti abang tidak boleh dibawa pulang malam ini, meski masalah administrasi bisa kita bereskan lebih dulu.


Dengan skenario tersebut, abangnya tidak dapat berbuat apa-apa, selain menurut dan menunggu dokter hingga esok pagi. Sedikit membuatku lega, karena paling tidak masih bisa menahan abang di sini, dan diupayakan kembali untuk bisa menahan abang di sini paling tidak sampai hari minggu menunggu perkembangan kondisi abang. Tidak ada yang tega membiarkan abang dibawa pulang paksa dengan kondisinya masih seperti ini, dan penyakit yang masih misteri. Akupun cukup lega, paling tidak aku masih bisa bertemu abang lagi sampai dibawa pulang.

Pagi harinya aku tidak bisa langsung ke rumah sakit, karena harus ke kantor. Banyak pekerjaanku yang tertunda setelah kemarin aku tidak masuk satu hari.
Tidak melihat abang adalah siksaan buatku. Tidak tahu keadaan abang, ditambah rencana abang akan dibawa pulang hari ini, membuatku semakin tersiksa. Pekerjaanku pun tidak bisa kulakukan dengan benar. Di kepalaku hanya ada abang. Dan saat ada yang akan menengok keadaan abang, tanpa pikir dua kali aku langsung mengajukan diri untuk ikut. Aku harus melihat abang lagi, paling tidak aku tahu keadaannya!

Menjelang shalat Jum’at, aku, Bu Yusi dan Eka pergi ke rumah sakit melihat keadaan abang. Sesampainya kami di sana, ada beberapa temannya di sana, salah satunya Kumed, dan keadaan abang masih belum banyak berubah. Masih diam meski sedikit lebih segar dari kemarin terakhir kulihat. Ada perkembangan baik.

Seperti hal kemarin, aku langsung mengecek abang; mulai infusnya, sondenya, kantung lambungnya, sampai kantung urinnya. Infusnya sudah diganti dengan yang baru. Selang sondenya yang dari lambung sudah bening, dan yang menggembirakan kantung lambungnya sudah tidak berisi darah lagi, tapi cairan bening, itu artinya tidak ada pendarahan lagi di dalam sana. Dan tentu saja, kantung urin abang yang terlihat normal. Abang baik-baik saja. CIHUI!!!

Bersamaan dengan itu, abangnya yang bernama Arman, kembali dari dari makan siangnya dan langsung berhadapan dengan Bu Yusi, sementara aku asyik dengan abang. Aku sempat melap lehernya, dan menaburinya dengan talc agar lehernya tidak lengket, juga menaikkan rambutnya. Gatal rasanya ingin menyisir dan merapikan rambut sunsilknya. Tapi karena takut rontok, akhirnya aku hanya bisa menyisirnya dengan jariku. Ini rambut yang kemarin sempat terkena muntahannya, belum sempat dicuci. ‘Nanti ya, bang, kalau sudah sehat, keramas.’
Dengan teman-temannya, kami sempat bercanda mau membawakan komputer dengan games-games favorit abang seperti Medieval War, Target War, n Football Managaer. Atau membawakan DVD series kesukaan abang, seperti Heroes, Greys Anatomys, Smallville, atau serial favorit kita berdua; Supernatural the one and only Dean and Sam Winchester! Aku bahkan sempet kepikiran untuk mencarikan lagu-lagu heavy metal tahun 80-90-an milik AC/DC atau Deff Lepard yang jadi kesukaan abang akhir-akhir ini gara-gara ketularan Dean Winchester yang demen sama musik begini. Aku juga sih. Lagu favorit kita berdua ‘Cant Fight This Feeling’ milik Red Speed Wagon. Itu juga gara-gara Dean Winchester nyanyiin terus lagu itu. Ah, senangnya kalau abang sudah keluar nanti. Abang masih hutang Supernatural season 4 eps. 5 dan 6 yang belum sempat didownload di kampus. Abang memang harus sehat lagi.

Sampai hari ketiga di rumah sakit, abang masih memakai baju-bajuku yang aku bawakan dari rumah. Tidak ada yang sempat membawakan baju-baju abang. Tas ransel besarnya dia yang aku bawa dari kantor hanya berisi; diktat, buku hariannya, kartu-kartu kreditnya, dan satu kantung besar KOPI ACEH yang masih utuh. Sempat aku mencari pisau belati kesayangan abang, tapi tidak kutemukan. Katanya sih, ada.

Melihat abang yang sudah kelihatan normal, dan belum ada kepastian apakah abang mau dibawa pulang hari ini, aku iseng tanya abang:
“Bang, abang pengen pulang, atau tetep di sini?”
Abang hanya melenguh dan memalingkan kepalanya. Yang mungkin artinya ‘Tau ah, ga bisa mikir nih.’
“Aku sih, pengen abang di sini...,” lanjutku dengan nyengir penuh harap, biar aku bisa lihat abang tiap hari.
Tapi yah, mana bisa abang jawab. Mungkin ini juga yang membuatnya stress. ‘Orang pengen istirahat, ini harus pergi lagi. Tidak ngerasain apa, kepala gue muter tidak karuan!’ mungkin itu yang ada di kepala abang.

Rasanya tidak puas menemani abang hanya sebentar. Terlebih saat Bu Yusi membunyikan bel waktu berkunjung habis, alias aku harus kembali ke kantor. Berat sekali harus meninggalkan abang. Ada perasaan ini adalah moment-moment terakhir aku bisa melihat abang lagi. Tapi terus aku hilangkan. Tidak, abang tidak akan kemana-mana. Abang tidak akan dibawa pulang, dan besok hari Sabtu, aku bisa seharian nemenin abang di sini. Aku penuh optimistik tidak ingin kehilangan abang secepat ini.

“Udah, ya, bang, aku pulang,” aku pamitan dengan menggenggam tangannya yang masih terasa dingin. Dan untuk pertama kalinya sejak aku menemaninya, abang memandangku hangat meski tidak berucap apa-apa.
Aku hanya tersenyum memandangnya, berharap itu bukan saat-saat terakhir kita bertemu. Masih ada hari esok kita ketemu lagi.
“Aku pulang, ya, bang,” sekali lagi aku pamitan karena entah kenapa, kali ini terasa sangat berat meninggalkan dia.
Abang hanya mengangguk perih.
Aku tersenyum dan pulang dengan penuh keyakinan aku masih bisa ketemu abang lagi. Dan di hari itu aku akan tahu perasaan abang padaku.

Kembali ke kantor, kembali pada rutinitasku yang melelahkan. Tapi tetap tidak bisa menghilangkan pikiranku akan abang. Penuh was-was, aku menunggu kenyataan, apakah abang jadi dibawa pulang? atau Kumed dan teman-teman bisa mempertahannya abang, paling tidak sampai hari minggu? Aku sempat berpesan pada Handi, kalau memang abang jadi dibawa pulang, paling tidak ada beberapa temannya yang menemani abang sampai di rumah sana. Tapi Handi berkeberatan akan tanggung jawab itu. Akupun mengerti dengan kapasitasnya yang bukan ahli medis, akan sulit menanggung beban bila terjadi apa-apa pada abang di jalan nanti.

Semakin sore perasaanku semakin tidak tenang, dan sebelum maghrib aku putuskan untuk menelepon Kumed. Dan jawabannya langsung membuatku lemas.
“Udah, mbak, jadi dibawa pulang. Ini selang dan infusnya sedang dilepas.”
Jantungku berhenti seketika. Harapanku pupus. Abang dibawa pulang, membuatku tidak bisa melihat abang lagi, membuatku tidak bisa menemani abang lagi. Air mataku langsung menetes, dengan perasaan tidak terima. Tidak terima dengan keputusan keluarganya yang terhitung gegabah. Abang masih belum sehat. Abang belum bisa jalan jauh, meski dengan kendaraan pribadi. Kemarin saja hanya dari Borromeus sampai RSHS abang muntah hebat, ini mau dibawa ke Bogor, bisa collapse abang di jalan. Abang belum bisa dibawa pulang. Terus bagaimana dengan CT Scannya? Bagiamana abang nanti di perjalanan? Bagaimana kalau abang semakin parah? Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk di kepalaku dan sangat menyesakkanku. ABANG GA BOLEH DIBAWA PULANG DULU!!!!
Tapi apa daya, keputusan keluarga jauh lebih kuat daripada keinginan teman-temannya di sini. Dan kita tidak bisa berbuat apa-apa selain melepas abang pulang. Mudah-mudahan keputusan ini adalah yang terbaik, dan abang bisa membaik di tengah keluarganya. Dengan abang dibawa pulang, untunglah aku dibekali nomor Bang Arman, dan tanpa malu aku langsung mengirim pesan pada abangnya menanyakan kabar abang, dengan segala pertanyaan penuh kekhawatiran tentang kondisi abang selama di perjalanan.

Tepat pukul 11 malam, aku mendapatkan telefon dari abangnya, yang mengabarkan abang sudah tiba dengan selamat di Bogor. Aku langsung menanyakan keadaannya. Katanya abang sudah tertidur kelelahan. Akupun tidak bisa bertanya apa-apa lagi. Aku sudah cukup lega, abangnya mengabarkan kondisi abang, meski belum banyak perubahan.



5
1 Minggu dalam kedipan mata.

Hari Sabtu yang menyebalkan. Aku yang seharusnya libur, harus lembur, karena ada tugas membuat filler order Jakarta. Tapi tetap, aku tidak putus mencari informasi keadaan abang. Sepertinya setiap menit aku harus tahu keadaan dia.

Dan pukul 10 pagi, aku menelepon lagi Bang Arman. Sebuah jawaban cukup membuatku hampir pingsan,
“Ya, kita sudah sampai di Bandara, segera berangkat ke Makassar.”
GUBRAK!! Nekad sekali dan gegabah, memutuskan untuk langsung membawa abang ke Makassar, bahkan tidak memberi abang waktu istirahat seharipun. Aku tidak berani membayangkan bagaimana menjadi abang, merasakan letihnya tubuh ini selepas perjalanan jauh dengan kondisi badan jauh dari fit, ditambah sakit di kepala yang tidak mau hilang.
‘Oh, abang, yang sabar ya... yang kuat.....’

Pukul 3 sore aku kembali mendapat telefon dari Bang Arman, yang mengabarkan mereka sudah sampai di Makassar dengan selamat. Saat kutanyaakan abang, abangnya hanya menjawab,
“Faisal baik-baik saja, hanyak terlihat letih.”
‘Ya, pastilah capek. Gila apa, ini, abang. Tega bikin adiknya yang sakit begini harus menempuh perjalanan jauh, lewat udara lagi’. Aku semakin tidak berani membayangkan apa yang dirasakan Bang Ical. Kalau aku, pasti sudah muntah-muntah. Bener-bener tidak punya perasaan!
Tapi paling tidak hikmah yang bisa aku ambil dari pulangnya abang ke Makassar, dia bisa dekat dengan ibunya, yang mungkin akan membuat keadaan abang membaik. Aku tahu ibundanya pasti sangat mengkhawatirkannya. Ya, ibu mana sih yang tidak panik kalau dengar anaknya sakit. Jadi mungkin akan ada perkembangan baik dari abang setelah dia berada di tengah keluarganya yang pastinya akan menjaga dia 24 jam penuh tanpah pamrih dan tentu saja penuh dengan kasih sayang. Ini sedikit membuatku tenang, dan yakin abang akan baik-baik saja. Hanya ada ketakutanku. Aku takut abang akan lama di sana, karena aku yakin dengan kondisi abang yang seperti ini dengan pekerjaannya yang kerja rodi tentu keluarganya tidak akan mudah melepaskan abang untuk kembali ke Bandung dalam waktu dekat. Paling tidak butuh 3 bulan lah, untuk abang full recovery dari sakitnya ini, dan itu berarti 3 bulan aku tidak ketemu abang. Siksaan lagi, nih!

“Kalau abang gak balik lagi ke sini, gimana?” sempat pertanyaan itu keluar karena saking takutnya tidak bisa ketemu abang lagi.
Tapi banyak yang menenangkanku.
“Pasti balik lagi, lah, Piek, orang barang-barangnya dia di sini semua. Kalaupun ga kerja lagi di sini, pasti dia ke sini ngambil barang-barangnya.”
Aku hanya tersenyum pahit sedikit terhibur. Ya, abang pasti balik lagi ke sini.

Dengan abang yang berada di sana, aku terus berusaha untuk mencari tahu perkembangan abang. Untunglah keluarga abang cukup kooperatif denganku. Aku dihubungkan langsung dengan kakak perempuannya, Kak Yanthi, yang memang aku dengar dia adalah kakak yang paling dekat abang. Kalau ada apa-apa pasti abang curhat dengan Kak Yanthi. Tapi ternyata keadaan abang belum banyak berubah. Abang masih lemah dan masih belum bisa bicara. Keluarganya meyakini, ada sesuatu yang dipikirkan abang, sampai dia enggan bicara. Aku pun mencoba untuk mendorong keluarganya untuk pelan-pelan membujuk abang untuk bicara melalui obrolan dari hati ke hati. Karena kalau didekati dengan hati, abang pasti perlahan mau bicara.

Hari Senin aku mendapat berita baik. Abang sudah bisa makan bubur dan sudah bisa duduk. Abang sudah bisa masuk nutrisi yang tidak hanya dari infus saja. Jelas ini sebuah perkembangan yang bagus meski abang masih belum bisa bicara. Keluarganya tetap meyakini abang stres dengan permasalahannya hingga tidak mau bicara dan sulit mengeluarkan isi kepalanya. Kondisi abang yang membaik hingga diputuskan untuk membawanya pulang ke rumah.

Akupun diminta keluarganya untuk mencari segala macam informasi tentang abang di luar sana. Tapi jujur aku tidak tahu apa-apa soal dia. Abang sangat tertutup, dan mana pernah dia cerita masalahnya padaku. Aku pun dengan terpaksa membongkar-bongkar laci kerja abang untuk mencari secarik informasi penting tentang permasalahan yang membelitnya. Tapi tidak ada. Yang aku temukan hanya tagihan-tagihan kartu kreditnya dan rekening listriknya. Tidak banyak yang bisa aku bantu. Akhirnya aku meminta tolong Handi untuk mencarikan teman yang paling dekat dengan abang dan paling dipercaya abang untuk berbicara dari hati ke hati dengan abang sampai apa yang menjadi beban pikiran abang keluar. Karena ditakutkan kalau abang tidak juga mengeluarkan apa yang ada di kepalanya, dia bisa terkena stroke dan terburuknya lumpuh!

Dan benar apa yang aku takutkan. Hari berikutnya, Selasa, aku mendapat kabar dari Kak Yanthi, tubuh sebelah kanan abang mati rasa, sama sekali tidak bisa digerakkan. Ini yang membuatku ketakutan. Karena memang saat di Bandung kemarin, dokter mengkhawatirkan terjadinya kelumpuhan ini, karena itu dokter meminta untuk dilakukannya CT Scan. Tapi entah kenapa sesampainya di Makassar CT Scan abang belum juga dilakukan.

Hari berikutnya semakin mengkhawatirkan dengan aku mendapat kabar abang kejang, dan tidak sadarkan diri. Aku semakin gemas. Tindakan medis apa yang sudah dilakukan untuk abang? Dan rumah sakit sudah memberi apa pada abang? Dari kemarin setiap aku tanya pada keluarganya di sana, treatment apa yang sudah dilakukan, mereka hanya menjawab,
“Ya, ini... masih begini...belum ada treatment apa-apa.”
HELLLO!!?? Abang sudah lumpuh sebagian nih, abang juga sudah kejang, mau tunggu apa lagi? DO SOMETHING!!!! CT SCAN kek, MRI kek, atau kalau memang harus, lakukan itu LP – Lumbar Puncture! Aku tidak peduli sekarang, yang penting ketahuan abang sakit apa. Ini sudah jelas abang sakit serius, bukan hal-hal yang aneh-aneh. Abang butuh pertolongan medis!

Dan akhirnya melihat abang yang sudah tidak sadarkan diri setelah kejang, abang langsung dilarikan ke rumah sakit lagi. Mereka panik dan mulai melakukan sesuatu dengan dilakukan berbagai tes. Tapi mungkin sudah terlambat. Aku diminta keluarganya untuk ikut berdoa karena abang sudah pada kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Semua keluarganya sudah berkumpul untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Bang Arman yang kemarin sudah sampai di Bogor harus terbang kembali ke Makassar karena keadaan Bang Ical yang semakin memburuk. Dan semua hanya bisa berdoa. Berharap semua belum terlambat dan masih ada harapan untuk abang.








6
Jum’at Kelabu .....

31 Oktober 2008

Hari ini aku ke rumah sakit untuk menjenguk abang. Sebuah rumah sakit yang tidak aku kenal. Dan bagaimana aku bisa sampai di sini, akupun tidak tahu. Aku hanya yakin, aku akan menengok abang. Perasaanku tidak karuan dengan berita semalam dari Kak Yanti yang mengabarkan, abang dalam keadaan kritis. Seluruh keluarganya sudah berkumpul untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Kemungkinan yang belum ingin terjadi selain Tuhan yang mengizinkan. Tidak ada perasaan apa-apa, hanya perasaan gugup dengan segela kemungkinan terburuk akan kondisi abang. Abang masih terdiam , tidak bisa berkomunikasi. Aku seorang diri, tidak ada yang menemani, tapi aku siap.

Perasaanku semakin tidak karuan saat mendekati pintu kamarnya. Tapi aku hanya tercenung tidak percaya saat aku sampai di sana dan mendapati pemandangan yang tidak dapat kupercaya. Mataku langsung berkaca-kaca. Di sana abang terlihat duduk bersandar di tempat tidurnya sedang bercengkerama dengan keluarganya. ABANG SUDAH SADARKAN DIRI DAN BISA BICARA!!!
Jantungku berpacu kencang dan masih terpaku di pintu kamarnya, tidak mempercayai, melihat dia terbangun tidak lagi tak sadarkan diri. Sepertinya bayangan abang yang diam dan membisu teringat terus di kepalaku.
Aku tersentak dengan mata abang menangkap kedatanganku. Abang tersenyum padaku, seperti telah menunggu kedatanganku. Perasaanku semakin tidak karuan.
“Terima kasih....,” ucapnya halus dengan tersenyum membuat darahku berdesir hangat. Air mataku semakin tak tertahankan. Bukan, bukan kata terima kasih yang kuharapkan darinya, tapi cukup dengan akhirnya abang melihatku dan tahu aku sayang sama abang, itu sudah cukup untukku.
Perasaan ingin berlari padanya dan memeluknya, menyesakkanku. Tapi saat akan kulangkahkan kakiku masuk ke dalam kamarnya, kaki ini terasa berat sekali, dan aku tidak bisa mendekatinya. Aku tertahan di luar sementara perhatian abang sudah beralih pada keluarganya dan kembali bercengkerama dengan mereka. Tak kudengar apa yang mereka bicarakan, tak kudengar apa yang abang ucapkan. Aku hanya bisa melihat abang mengucapkan banyak kata tanpa bisa kuartikan dengan jelas.
“Abang! Ini aku...!” aku memanggilnya. Tapi tidak ia dengar. “ABANG!!” Tetap tidak ia dengar. Seperti ada dinding kaca yang menghalangiku.
“ABAAAANGGG!!!!!” aku memanggilnya sekeras-kerasnya hanya untuk menarik perhatiannya. Hanya untuk membuat abang menengok lagi padaku. “ABAAANGG!!!!”
Tapi teriakanku hanya membawaku tersadar kembali ke tempat tidur di kamarku.
Aku tercenung, hampa. Ternyata mimpi.
Kulihat sekelilingku, masih gelap. Jam berapa ini... Jam 4 pagi. Aku jatuh kecewa. Ternyata hanya mimpi. Mimpi yang aneh. Melihat abang bisa berbicara.
Aku menarik nafas dalam-dalam, menenangkanku diri, mudah-mudahan tidak ada hal buruk terjadi, terlebih dengan kabar terakhir abang masih belum sadarkan diri. Mudah-mudahan mimpiku benar-benar terjadi, abang sadarkan diri dan kembali bisa bicara.

Sebuah mimpi yang aneh, yang membuatku tidak ingin memikirkan hal yang aneh-aneh. Aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya. Paling tidak itu yang aku coba lakukan. Dan pekerjaan pagi itu cukup untukku melupakan mimpi semalam. Tugas untuk mengembalikan wardorb ke butik dan mengambil wardrobe yang baru cukup menyibukkanku. Belum lagi aku harus ke hotel untuk melihat persiapan malam ini; Malam Marketing Gathering-Fun Dinning with IMTV, yang aku lihat sebagai soft launching dari IMTV yang baru. Sayang abang tidaak ada. Teringat kembali dua tahun yang lalu saat launching IMTV pertama, abanglah yang terlihat paling sibuk. Memang siapa lagi kalau bukan dia, bersama Bang Ray, dan Kang Billy, orang-orang hebat yang bisa kita andalkan di IMTV. Tapi mudah-mudahan abang bisa ikut menikmati dari sana.

Hujan turun deras saat aku dan Erik meluncur dari kantor menuju beberapa tempat termasuk hotel yang ada di Jalan Setia Budi, padahal waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi. Kita harus menurunkan beberapa alat sebagai properti untuk acara malam nanti.

Sebuah hotel yang besar dan mewah bergaya klasik Eropa. Bila melihatnya seperti melihat Istana Versaillles di Prancis sana. Besar berwarna abu-abu.
Hotel terlihat lengang saat kami tiba di sana. Tidak ada tanda-tanda akan ada acara malam nanti, dan tidak terlihat banyak tamu hotel yang datang. Mungkin karena baru, belum banyak yang mengetahui keberadaan hotel besar ini.

Kami langsung ke ruang Ballroom yang berada di lantai dua untuk menyerahkan properti yang kami bawa.

“Barangnya ada di bawah mas, mau dilihat dulu, biar tahu butuh berapa orang untuk membawanya?”
Orang yang mendapat tanggung jawab menerima properti dari kami mengangguk, dan kami pun bersiap kembali turun ke mobil.
Tapi belum sampai kami menuju pintu keluar Ballroom, telfonku berdering. Karena repot posisi hapeku terselip di dalam, aku melewatkan dering yang pertama, hingga harus berbunyi lagi.
Saat kulihat nama ‘ical’ di layar hape, aku langsung mengangkatnya. Pasti Kak Yanti.
“Ya, Kak?” aku menjawab dengan gugup.
Terdengar suara parau dari sana, “Upiek, Bang Arman sudah telepon?”
Aku tercenung, “belum, kak, kenapa?” perasaanku mulai tidak enak.
“Faizal, piek... Faizal sudah meninggal!” dengan setengah histeris dari sana, diikuti tangisnya.
Jantungku berhenti seketika. Kakiku lemas, aku berusaha mencari pegangan untuk menopangku jangan sampai jatuh. Air mataku langsung keluar. Jantungku berdebar kencang. Hancur rasanya hati ini.
Saat itu aku tidak ingat lagi. Hubungan dengan telefon terputus, dan aku sibuk dengan perasaanku, sibuk untukku jangan histeris di sini. Tapi tidak bisa. Aku menangis, mataku sudah basah tidak tertahankan.
Di tengah kepanikan, aku langsung menelepon kantor,
“Mbak... kenapa, mbak?” tanya mas yang pergi denganku.
“Teman kita meninggal....” aku sempat menjawab sebelum mendengar nada jawaban dari sana.
“Innalillahi wa innailaihi Rojiun.”
“Ya, piek...?” suara Ibu Kate, atasanku, terdengar dari sana.
“BU!! ABANG!!!! ABANG MENINGGAL!!!” aku dengan histerisnya, dan hubungan langsung terputus. Tangisku sudah tak tertahankan lagi, meski masih aku bisa kontrol tidak sampai histeris panik.

Tapi entah kekuatan dari mana, aku masih bisa berdiri dan mencari Erik.

“Erik ..., bang Ical sudah ga ada.....”
Erik terkatup tidak percaya.
Aku langsung menelepon Bang Arman untuk mendapat kepastian.
“Bang!?” aku setengah histeris.
“Iya, sudah, tolong dimaafkan Faizal, ya...,”
“Kapan bang, kapan!” di tengah tangisku.
“Baru saja.”
“Sudah dipastikan? Bener abang sudah tidak ada?” jelas sekali aku berharap ada kesalahan, dan abang masih ada.
“Iya, piek, sudah. Sekarang sudah di rumah dari rumah sakit.”
“Jadi tadi malam di rumah sakit, bang?”
“Iya. Sekarang maafkan semua kesalahan Faizal, bilang kawan-kawannya, segala permasalahannya, kita selesaikan nanti, ya, piek...,”
“Iya, bang,” aku terseguk-seguk.
“Sudah, ikhlaskan, dan terima kasih banyak.”
Aku hanya mengangguk tak kuat lagi untuk menjawabnya, hingga sambungan terputus dari sana.
Tangisku kembali meledak. Erik langsung menarikku ke pelukannya dan membiarkan aku menangis di sana. Aku menangis tidak karuan. Menangis mengharapkan ini hanya mimpi. Dan abang masih ada. Dan kenapa juga aku pakai gaun hitam pagi ini!!

7
Bayangan Abang.....

Meski sempat aku mengirimkan pesan duka kepada teman-teman, aku merasa tidak napak. Hatiku hancur. Nyawaku seakan hilang setengahnya. Aku pun tidak percaya bisa kuat menginjakkan kaki kembali ke kantor dengan menyadari abang sudah tidak akan ada lagi di sana.

Perasaan yang sama denganku menyelimuti kantor. Tidak ada yang percaya dengan berita ini, dan berharap ini hanyalah mimpi, dan abang masih ada di sini.

Entah berapa kali aku menangis tidak menerima kepergian abang. Tapi siapa yang bisa menahan kalau setiap hari harus melewati mejanya dan menyadari abang tidak akan duduk di sana lagi. Abang tidak akan lagi main war medieval atau target war di sana. Abang tidak akan ada lagi di sini. Dan saat aku masuk ke kamar Kang Riki, masih tercium aroma abang yang sepertinya akan terus melekat di sana, membuatku semakin tersiksa.

Sakit dan sesak sekali dada ini harus menerima abang sudah tidak ada. Dan membereskan barang-barangnya ternyata jauh lebih menyakitkan. Mengumpulkan barang-barang abang yang menyebar di kantor seakan menyusun kenangan tentang abang. Barang-barang mulai dari dokumen-dokumen pribadinya, buku-bukunya yang sudah pantas dibuatkan perpustakaan kecil, pakaian-pakaiannya, sampai peralatan mandinya. Ada bukuku yang ia pinjam dan belum selesai ia baca karena keburu beralih ke buku lainnya, ada 2 filmku yang dia pinjam lama sekali tidak kembali-kembali. Belakangan aku tahu kenapa dia belum mengembalikan filmku, ternyata karena satu cd dari filmku hilang entah di mana. Mau tanya abang? Abang sudah tidak ada.

Masih dengan perasaan tidak percaya, kami mengumpulkan barang-barang abang hanya untuk diambil oleh kakaknya yang akan datang minggu depan. Bukan abang yang mengambilnya, dan bukan dalam waktu 3 bulan. Membuatku teriris perih teringat dengan ketakutanku dulu, abang tidak akan pernah kembali ke sini, meski hanya untuk mengambil barang-barangnya.
Mataku terpaku pada sosok boneka ganesha kesayangan abang. Kuambil dia dan kupeluk boneka kecil itu yang menjadi kebanggaan abang karena membuktikan dirinya bisa masuk ke Institut terbaik di Indonesia, meski harus melalui peristiwa jatuh dari lantai 3 saat SMA dulu.
“Bang, aku simpan ya, bonekanya,” tersenyum perih kupandangi boneka gajah bertangan empat perlambang Dewa Ilmu Pengetahuan, dan kukecup dia, semakin terasa perih di hati.
Dengan perih kupandangi tumpukan pakaian kotornya yang tidak sempat ia cuci. Ini juga yang membuatku merasa bersalah. Beberapa kali dia selalu bertanya, “Bisa ikut laundry sekalian, ga?” dengan mengerlingkan matanya pada jajaran busana anchor yg siap dicuci. Yang tentu saja kujawab, tidak bisa, karena tidak enak dengan pihak laundry-nya.
Masih tercium kuat aroma tubuhnya, membuatku sesak. Kuputuskan untuk kubawa pulang dan mencucinya di rumah, agar dapat dibawa pulang oleh kakaknya dalam keadaan bersih, meski sebenarnya aku masih ingin mencium aroma tubuhnya. Aroma tubuh seorang laki-laki yang selalu menjaga kebersihan badannya, yang selalu harus wangi saat bersujud menghadap Tuhannya. Belum pernah aku melihat laki-laki berambut panjang yang menjaga kebersihan tubuhnya selain abang. Abang adalah laki-laki istimewa. Dan akan sulit untuk melupakannya, terlebih melupakan aroma tubuhnya yang sudah memenuhi ruangan Kang Riki.

Perasaan tidak percaya dan tidak menerima abang sudah pergi masih menyesakkanku. Ingin aku putar lagi waktu dan melihat hari-hari abang masih di sini. Melihat abang duduk di mejanya, entah mengedit kerjaan atau main games perangnya dia. Aku masih ingin mendapat teleponnya yang minta dibelikan kopi Torabika Cappucino favoritnya di “Circle K”, atau kupat tahu tiap pagi buat sarapan dia. Aku masih ingin dengar abang bilang: ‘piek, eps. 3-nya tuh udah ada....,’ buat tiap episode serial Supernaturalnya yang selalu dia download di kampusnya spesial untukku setiap minggunya. Aku ingin abang masih ada. Aku belum puas melihat abang. Aku belum puas memperhatikan abang, mengaguminya dari belakang, meski abang tidak tahu aku perhatikan, meski abang tidak tahu aku kagumi. Aku belum mau abang pergi!!!!
‘Ya, Allah... maafkan aku....’


8
Pergi Meninggalkan sejuta kenangan

Tumor Otak, itulah diagnosis terakhir penyakit abang. Rasa menyesal dan gemas memenuhiku. Kalau saja lebih awal dilakukan CT Scan, mungkin akan cepat ketahuan apa yang menyiksa abang. Tapi memang kita tidak boleh ada kata “kalau aja” karena semua yang terjadi sudah digariskan Tuhan. Tapi bukankah kita juga yang semestinya melakukan segala usaha sebelum garis takdir terjadi. Ada perasaan ingin menyalahkan keluarga yang tidak cepat tanggap dengan keadaan abang, dan tetap berkutat pada hal-hal yang tidak masuk akal, tapi apa gunanya, tetap tidak akan membawa abang kembali. Dan memang kenyataannya abang sakit medis. Ada “massa” di kepalanya. Abang butuh dokter bukan yang lainnya! Tapi ya, mungkin ini yang harus dilalui abang untuk menghadap penciptnya. Kita tidak bisa menolak, kita tidak boleh protes, dan tidak boleh menyalahkan siapa-siapa. Meski tetap ada juga rasa ‘kecolongan’ kenapa kita tidak pernah tahu abang menyimpan penyakit di tubuhnya. Bisa jadi kebiasaan abang yang suka membentur-benturkan kepalanya ke tembok adalah cara dia untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya yang sering menyiksanya, dan kita tidak ada yang menyadari itu. Rasa sesal semakin menyesakkan, abang menyimpan rasa sakitnya sendiri.

Dan mungkin di saat penyakit itu semakin parah, tanpa ada orang yang mengetahui, abang sudah bisa merasakan, bahwa waktunya di dunia ini sudah tidak lama lagi. Terlihat dari posting-posting terakhir abang di situs blog-nya yang hanya membicarakan hubungannya dengan Tuhan, dan menyinggung bahwa waktunya sudah dekat. Abang semakin mendekatkan diri pada yang kuasa. Di saat waktunya semakin dekat, abang menyempatkan diri untuk berpamitan pada orang-orang terdekatnya di kantor melalui mimpi. Ada 6 orang yang ia pamitkan 1 minggu sebelum dia pergi, termasuk aku. Mereka adalah Kang Riki, Kang Yusuf (editor), San-San (grafis), Wahyu dan Indra (MCR). Dan aku tahu apa semua yang abang pamitkan pada mereka, diantaranya :
- Kang Yusuf dititipi pesan: “Cup, titip password, nya.”
- Indra bermimpi ditelepon abang :
Indra: "Cal, maneh di mana yeuh?"
Ical: "Urang ayeuna geus di Makassar, euy"
Indra: "Naha di ditu?"
Ical: "Heu-ueh, urang geus enak di dieu, geus tenang."
Indra: "Oh, nya sukur atuh"
Ical: "Heueh. Hampura urang, nya, mun aya salah."
Indra: "heueuh, sami-sami."
- Kang Riki : Ical datang ke rumah dan tanpa berucap sepatah katapun langsung memeluk kang Riki dengan berurai air mata.
Dan mimpiku? Seperti yang sudah keceritakan di atas sebelum menerima kabar dari Makassar, abang sudah pergi

Kepergian abang meninggalkan kenangan indah bagi banyak orang. Banyak yang merasa kehilangan dengan kepergian abang. Terlebih kawan-kawannya. Banyak yang menyayangi dan mencintai abang di luar sana. Dari blog-blog kawan-kawannya yang aku temukan, banyak yang menceritakan bagaimana sosok abang di mata mereka. Dan hampir semua bernada sama. Abang yang mereka kenal adalah sosok yang istimewa dengan pribadi yang luar biasa. Abang adalah seseorang yang memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi, solidaritas dengan kawan yang kuat dan memiliki prinsip hidup dan idealsime yang kuat. Tak banyak orang yang seperti abang, yang mereka lihat sebagai sosok muda yang sudah memberikan banyak hal untuk orang lain. Bukan materi tapi moral dan semangat yang kuat.

Mungkin masih banyak keinginan abang yang belum tercapai selama hidupnya, termasuk keinginannya untuk melanjutkan S2-nya di jurusan yang sama, tapi ada satu yang pasti yang sudah dicapai olehnya, yakni berada di langit luas yang begitu ia cintai, dalam dekapan cinta Tuhan yang sangat menyayanginya. Tubuhnya terbaring dengan tenang di tanah kelahirannya. Dan kita tahu itulah yang terbaik untuk abang. Abang tak perlu merasakan sakit lebih lama, dan kita tahu orang yang mati muda adalah orang terbaik dan orang-orang pilihan. We have to let him go, and We will.

Hari Jum’at, 31 Oktober 2008 adalah hari yang tidak akan pernah kulupakan. Hari di mana kita kehilangan sahabat istimewa dan aku kehilangan abang tersayangku, untuk kembali pada sang Khalik, mendapatkan kehidupan yang tenang dan damai tanpa ada masalah dan rasa sakit yang hanya dapat dirasa di dunia ini.

Bye love. Save Journey. Rest in Peace.

Bandung, 14 November 2008 22.30

1 komentar:

  1. I've just finished reading this, very good story i've ever read, it's deeply touching my heart, i feel heartsick while reading, i'm trying to place myself into "Abang" 'n "Upiek" positions, Oh My God,.. I burst into tears as i'm supposing this happens to me, ok this is an extraordinary story 'n u're a very good writer. Just keep writing 'n do the best...!!!
    Thanks for sharing!

    BalasHapus